Cegah Wabah Malaria

Khusus Jawa Barat, kewaspadaan perlu lebih ditingkatkan, mengingat kawasan Pantai Selatan Jabar merupakan daerah endemis malaria yang banyak merenggut korban jiwa.

BANGSA ini sepertinya memang harus banyak belajar bagaimana caranya mempertahankan sebuah prestasi atau kesuksesan. Sudah berkali-kali kita sukses menggapai prestasi, tapi berkali-kali pula kita gagal mempertahankannya. Sudah demikian banyak kita mendapat pengakuan dunia internasional terhadap suatu pencapaian, tapi terlalu sering pula kita “menciderai” pengakuan tersebut. Salah satunya adalah dalam hal pencegahan wabah malaria.

Hingga tahun 1997, Indonesia sebenarnya sudah mengalami kemajuan dalam pencegahan penyakit malaria. Jumlah kasus serangan penyakit yang divektori spesies nyamuk Anopheles itu tiap tahun terus menurun. Demikian pula dengan daerah-daerah yang sering dilanda kejadian luar biasa (KLB) malaria, kian menyempit. Secara nasional, hingga tahun 1997, hanya tinggal beberapa “titik” saja yang masih jadi prioritas Departemen Kesehatan untuk ditingkatkan statusnya menjadi “bebas malaria”.

Namun, begitu krisis ekonomi yang kemudian diikuti oleh krisis multidimensi melanda negeri ini, KLB malaria muncul kembali. Yang cukup mengejutkan, di daerah-daerah yang sebelumnya sudah dianggap aman dan bebas malaria, justru muncul KLB. Lebih gawat lagi, jika sebelumnya jenis nyamuk Anopheles yang menyebarkan parasit adalah mereka yang hidup di sawah dan laguna yang airnya tergenang. Belakangan muncul strain nyamuk baru yang biasa hidup di gunung dan hutan, dengan sifat yang lebih ganas dan menimbulkan serangan bersifat “komplementer” dengan nyamuk sawah dan laguna. Sehingga, penduduk mendapat ancaman malaria berlangsung sepanjang musim.

Memang benar, bila kita mengacu pada terjadinya krisis ekonomi, siapa pun tak bisa mengelak bahwa musibah nasional itu menjadi salah satu penyebab dari berbagai persoalan yang kini melanda masyarakat kita. Benar pula jika dikatakan, krisis menjadikan kemampuan daya beli masyarakat menurun. Kemampuan negara dalam menyediakan anggaran kesehatan dan memperbaiki kualitas lingkungan juga ancur-ancuran. Gabungan dari semua unsur itu akhirnya membentuk senyawa yang mampu menciptakan suasana di mana masyarakat menjadi demikian rentan terhadap serangan berbagai bencana dan penyakit. Tak terkecuali malaria.

Akan tetapi, asumsi tersebut tidaklah seluruhnya benar. Boleh saja kita dilanda krisis ekonomi. Tapi krisis tersebut bukanlah alibi dan legitimasi yang membolehkan kita bertindak destruktif dan lengah terhadap berbagai ancaman. Dalam kasus serangan malaria, andai saja perilaku ramah, adil, dan arif terhadap lingkungan sudah menjadi bagian keseharian masyarakat kita, rasanya kemunculan kembali KLB atau bahkan wabah malaria bisa dicegah. Mengapa?

Karena unsur paling berpengaruh dalam memunculkan KLB malaria adalah perilaku masyarakat. Dalam beberapa kasus yang ditemukan di Sukabumi, meningkatnya serangan malaria diakibatkan oleh kian rusaknya ekosistem hutan yang menjadi tempat nyaman hidup nyamuk Anopheles. Para korban malaria, termasuk yang meninggal dunia, adalah mereka yang menebang hutan atau keluarga penebang hutan.

Sebagai salah satu penyakit reemerging (menular kembali secara massal), malaria hingga saat ini harus ditempatkan sebagai salah satu ancaman di tanah air, termasuk Jawa Barat. Khusus Jawa Barat, kewaspadaan perlu lebih ditingkatkan, mengingat kawasan Pantai Selatan Jabar merupakan daerah endemis malaria yang banyak merenggut korban jiwa. Ini tentunya, selain membutuhkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan program nyata pencegahan dan pemberantasan malaria, juga dituntut keterbukaan informasi, baik mengenai potensi ancaman maupun fakta mengenai jumlah kasus yang ditemukan.***Pikiran Rakyat Cyber Media, 08 Juni 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/08/02.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s