Lingkungan Rusak, Nyamuk Gunung Tebar Malaria

SEBAGAI salah satu penyakit reemerging (menular kembali secara massal), malaria hingga saat ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Di dua kawasan tersebut, malaria sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah kematian mencapai lebih dari satu juta orang setiap tahunnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, KLB malaria kembali menimpa daerah-daerah endemis malaria di sejumlah daerah tanah air. Yang perlu menjadi perhatian adalah terdapatnya KLB malaria di daerah-daerah yang sudah jarang terjadi kasus malaria selama beberapa tahun. Hal ini terjadi karena lemahnya sistem kewaspadaan dini serta perencanaan pemberantasan malaria yang tidak dilakukan secara tepat dan berkesinambungan.

Salah satu daerah yang belum terbebas dari penyakit malaria adalah Jawa Barat. Penyebabnya, selain karena faktor mobilitas penduduk yang tinggi, juga karena kondisi alam yang memungkinkan banyaknya tempat perindukan nyamuk seperti hutan, lagun di sepanjang pantai dan tambak yang terlantar. Jabar memiliki daerah reseptif endemis malaria yakni daerah dengan KLB tinggi, khususnya di sepanjang Pantai Selatan seperti Kab. Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.

Yang cukup mengejutkan, jika sebelumnya penyakit malaria lebih banyak disebabkan oleh nyamuk spesies Anopheles sundaicus yang hidup di sawah dan daerah lagun/tepi pantai, kini muncul nyamuk tipe gunung (Anopheles balabacencis) dan tipe hutan (Anopheles maculatus) yang lebih ganas. “Bukan saja lebih ganas menggigit manusia, nyamuk gunung dan hutan ini juga relatif lebih tahan terhadap insektisida yang biasa digunakan sehingga untuk mengendalikannya butuh insektisida baru,” kata Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Depkes, dr. Thomas Suroso, MPH.

Dengan asumsi bahwa kini muncul nyamuk spesies Anopheles maculatus dan Anopheles balabacencis yang lebih ganas, sementara pada saat yang sama tingkat kewaspadaan penduduk terhadap penyakit malaria mulai menurun, maka bisa dikatakan sebagian penduduk Jabar kini dalam posisi terancam. Belum lagi adanya peningkatan aktivitas manusia yang cenderung merusak keseimbangan lingkungan seperti membabat hutan atau pengalihfungsian pantai, kian mendekatkan pada ancaman tersebut. Yang paling terancam adalah penduduk yang bermukim dekat hutan, daerah endemis, para turis atau mereka yang sering keluar masuk hutan.

Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan, tingkat kesehatan masyarakat atau kejadian suatu penyakit dalam suatu kelompok masyarakat merupakan resultante dari hubungan timbal balik antara masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Pada gilirannya, sebagai unsur yang terlibat langsung dalam hubungan timbal balik tersebut, apapun yang terjadi sebagai dampak dari proses interaksi berupa perubahan lingkungan akan menimpa dan dirasakan masyarakat.

Dalam kasus penyebaran penyakit malaria, kita seringkali melupakan akar masalah mengapa penyakit tersebut bisa tersebar dan malah menimbulkan KLB yang menelan korban jiwa. Sejauh ini permasalahan masih berkutat pada bagaimana mengobati orang yang sakit malaria atau memberantas nyamuk sebagai vektor bagi penyebaran parasit plasmodium yang menyebabkan tubuh seseorang menjadi sakit. Karenanya, meski dalam satu kasus program pemberantasan penyakit malaria dianggap sukses, namun beberapa waktu kemudian–ketika semua orang melupakannya–penyakit itu malah muncul kembali dengan ancaman yang lebih besar.

Meski belum ada penelitian resmi mengenai kehadiran spesies baru nyamuk malaria, sejumlah pihak merasa yakin, setidaknya curiga kemunculan spesies baru nyamuk Anopheles yang lebih ganas dan berbahaya bukan sesuatu yang mustahil. “Belum ada penelitian yang hasilnya menjelaskan mengenai adanya spesies baru nyamuk Anopheles,” kata Willy Purnawarman, SKM Kes, Penanggungjawab Progam Malaria Dinas Kesehatan Jabar.

Berkaitan dengan penyebaran malaria, ada tiga faktor utama yang saling berhubunga yakni host (manusia/nyamuk), agent (parasit plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut mendukung. Sebagai host intermediate, manusia bisa terinfeksi oleh agent dan merupakan tempat berkembangbiaknya agent. Semua itu dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, gaya dan cara hidup, hereditas (keturunan), status gizi dan tingkat imunitas.

Menyangkut usia, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena infeksi parasit malaria. Meski tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, infeksi pada ibu yang sedang hamil menyebabkan anemia berat. Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk memiliki kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositas. Hal ini tidak dimiliki oleh ras kulit putih. Orang yang pernah terinfeksi sebelumnya lebih tahan terhadap infeksi malaria.

Demikian pula dengan cara hidup, berpengaruh terhadap penularan, misalnya tidur dengan kelambu relatif lebih aman dari infeksi parasit. Sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria erat berhubungan dengan infeksi malaria, meski biasanya memiliki imunitas alami sehingga lebih tahan. Sedangkan orang dengan status gizi rendah juga bisa lebih rentan terkena infeksi parasit dibandingkan orang berstatus gizi baik.

Perilaku nyamuk Anopheles sebagai host definitive, sangat menentukan proses penularan malaria, seperti tempat hinggap/istirahat yang eksofilik (senang hinggap di luar rumah) dan endofilik (suka hinggap di dalam rumah), tempat menggigit yakni eksofagik (menggigit di luar rumah) dan endofagik (lebih suka menggigit di dalam rumah), obyek yang digigit yakni antrofilik (manusia) dan zoofilik (hewan).

Sedangkan faktor lingkungan yang cukup memberi pengaruh antara lain lingkungan fisik seperti suhu udara, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari, arus air, lingkungan kimiawi, lingkungan biologi (flora dan fauna) dan lingkungan sosial budaya. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena ia dapat menghalangi sinar matahari.

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax spp.), gambusia, nila mujair dll akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu, adanya ternak besar seperti sapi atau kerbau dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar rumah, tidak jauh dari rumah.

Dalam kasus-kasus tertentu, kehidupan nyamuk di habitatnya, entah di pantai, hutan atau gunung sudah demikian harmonis dan mengikuti keseimbangan alam. Nyamuk hutan atau gunung misalnya, mereka sebelumnya cukup memenuhi kebutuhan darahnya untuk keperluan pertumbuhan telurnya dari darah binatang yang ada di hutan. Tanpa harus mengejar manusia. Manusia pun relatif terhindar dari gigitan nyamuk.

Namun, seiring dengan rusaknya lingkungan ekosistem hutan, kehidupan dan keseimbangan alami tempat hidup mereka pun terganggu. Nyamuk pun mencari sumber dan lokasi kehidupan baru. Orang-orang sehat yang keluar masuk hutan, terpaksa harus menerima gigitan dan pulang membawa parasit di dalam darahnya. Demikian pula penduduk yang bermukim di sekitar hutan, menjadi sasaran terdekat nyamuk-nyamuk hutan yang mencari sumber kehidupan mereka.

Penduduk yang berada jauh dari daerah endemik pun bukannya tanpa risiko ancaman. Meski kecil, risiko tertular parasit malaria tetap ada. Dalam kasus ini, faktor mobilitas penduduk memegang peran penting. Penduduk yang berasal dari daerah non endemis lalu masuk ke daerah endemis dan digigit nyamuk yang mengandung parasit, otomatis akan tertular parasit. Jika ia pindah ke daerah asalnya, ia pun menjadi vektor yang siap menyebarkan parasit ke orang lain. Jika di daerah asalnya tidak ada nyamuk Anopheles, maka ia sendiri yang terjangkit parasit. Namun jika di daerahnya terdapat nyamuk Anopheles, parasitnya akan menyebar ke orang lain.

Lingkungan sosial budaya dinilai punya peran luar biasa besarnya dalam penularan penyakit malaria. Kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita untuk berada di luar rumah sampai larut malam di mana vektor lebih bersifat eksifilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk.

Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan penggunaan zat penolak nyamuk (repellent) yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang cukup penting pula adalah pandangan masyarakat di suatu daerah terhadap malaria. Jika malaria dianggap sebagai suatu kebutuhan yang mendesak utnuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan dilaksanakan secara spontan oleh masyarakat.(Muhtar/”PR”).***Pikiran Rakyat Cyber Media, 09 Januari 2003

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/09/cakrawala/utama1.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s