Penderita TB di Indonesia Ketiga Terbanyak Dunia

Jakarta, Kompas – Penderita tuberkulosis di kawasan Asia terus bertambah. Indonesia sendiri menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan angka kasus TB terbanyak di dunia. Karena itu, dukungan lembaga donor dan komitmen politik nasional harus diperkuat untuk menjaga kesinambungan program penanggulangan TB. Sejauh ini, Asia termasuk kawasan dengan penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Setiap 30 detik, ada satu pasien di Asia meninggal dunia akibat penyakit ini. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia, di antaranya Banglades, China, India, Indonesia, dan Pakistan. Empat dari lima penderita TB di Asia termasuk kelompok usia produktif.

Menurut Sekretaris Eksekutif Stop TB Partnership Marcos Espinal, dalam pertemuan regional Stop TB Partnership, koalisi global beranggotakan lebih dari 500 mitra di seluruh dunia, Senin (27/11), di Jakarta, tuberkulosis telah mengakibatkan jutaan manusia meninggal dunia. “Begitu banyak penderita TB di Asia. Hal ini tidak dapat dibiarkan terus terjadi,” ujar Espinal. Maka dari itu, pihaknya berharap ada aksi bersama untuk mempercepat implementasi penanggulangan TB. “Stop TB Partnership siap bekerja sama dengan pemerintah setempat memperkuat berbagai upaya penanggulangan tuberkulosis di tingkat regional dan nasional dalam bentuk dukungan dana yang berkelanjutan,” tuturnya.

Namun upaya penanggulangan TB, lanjut Marcos, tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Upaya ini juga membutuhkan partisipasi masyarakat, pemberdayaan penderita TB agar mau menjalani pengobatan secara rutin hingga sembuh, dan dukungan keluarga maupun tenaga medis yang memantau jalannya pengobatan.

Indonesia

Di Indonesia, angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun atau 8 persen dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun, terdapat lebih dari 500.000 kasus baru TB, dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia produktif. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ketiga terbesar di dunia setelah India dan China. “Kita belum bisa terbebas dari TB karena belum ada vaksinnya. Setidaknya, kita berupaya menekan angka kasus TB agar tidak jadi masalah kesehatan masyarakat,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Nyoman Kandun, dalam forum “Stop TB Partnership”, Senin, di Jakarta.

Dengan adanya Gerakan Terpadu Nasional (Gerdunas) penanggulangan TB sejak tahun 2003, angka keberhasilan penyembuhan pasien meningkat hingga mencapai 89 persen, dan angka temuan kasus sekitar 70 persen. “Upaya penemuan kasus harus lebih proaktif karena orang dengan gejala TB tidak selalu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ujarnya menambahkan. “Hal ini harus diikuti dengan komitmen bersama untuk keberlanjutan program TB,” tuturnya. Selain itu, perlu perumusan kebijakan nasional tentang TB, rencana strategis pengendalian TB dalam lima tahun ke depan, pembagian obat secara gratis, dan koordinasi serta kesepakatan antar departemen.

Sayangnya, banyak pemda mengalokasikan anggaran kesehatan kurang dari 15 persen, bahkan sering kali tidak dianggarkan. Ada kesenjangan antara kebijakan TB di tingkat pusat dan daerah sejak desentralisasi,” kata Nyoman Kandun. (EVY) 29-11-06

http://perpustakaan.bappenas.go.id/pls/kliping/data_access.show_file_clp?v_filename=F2521/Penderita%20TB%20di%20Indonesia%20Ketiga%20Terbanyak%20Dunia.htm

Tuberkulosa

Tuberkolosis atau TBC adalah infeksi karena bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat merusak paru-paru tapi dapat juga mengenai sistem saraf sentral (meningitis, sistem lymphatic, sistem sirkulasi (miliary TB), sistem genitourinary, tulang dan sendi.

Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TBC. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal.

Tanggal 24 Maret diperingati dunia sebagai “Hari TBC”. Pada 24 Maret 1882, Robert Koch di Berlin, Jerman, mempresentasikan hasil penyebab tuberkulosa yang ditemukannya.

180px-paru_paru_tbc.jpg

Jenis-jenis

  • Tuberkulosa pernafasan, dikonfirmasi secara bakteriologik dan histologik

  • Tuberkulosa pernafasan, tidak dikonfirmasi secara bakteriologik dan histologik

  • Tuberkulosa pada sistem syaraf

  • Tuberkulosa pada organ lainnya

  • Tuberkulosa millier

Poliomyelitis

Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

Etimologi

Kata polio berasal dari bahasa Yunani πολιομυελίτις, atau bentuknya yang lebih mutakhir πολιομυελίτιδα, dari πολιός “abu-abu” dan μυελός– “bercak”.

Sejarah

Polio sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layuh yang berjalan dengan tongkat. Kaisar Romawi Claudius terserang polio ketika masih kanak-kanak dan menjadi pincang seumur hidupnya.

Virus polio menyerang tanpa peringatan, merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan. Ketika polio menyerang Amerika selama dasawarsa seusai Perang Dunia II, penyakit itu disebut ‘momok semua orang tua’, karena menjangkiti anak-anak terutama yang berumur di bawah lima tahun. Di sana para orang tua tidak membiarkan anak mereka keluar rumah, gedung-gedung bioskop dikunci, kolam renang, sekolah dan bahkan gereja tutup.

Apakah polio itu?

Polia adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.

Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.

Anak-anak dan polio

Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Karenanya, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layuh otot; gejala ini disebut sindrom post-polio.

http://id.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis

Lingkungan Rusak, Nyamuk Gunung Tebar Malaria

SEBAGAI salah satu penyakit reemerging (menular kembali secara massal), malaria hingga saat ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Di dua kawasan tersebut, malaria sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah kematian mencapai lebih dari satu juta orang setiap tahunnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, KLB malaria kembali menimpa daerah-daerah endemis malaria di sejumlah daerah tanah air. Yang perlu menjadi perhatian adalah terdapatnya KLB malaria di daerah-daerah yang sudah jarang terjadi kasus malaria selama beberapa tahun. Hal ini terjadi karena lemahnya sistem kewaspadaan dini serta perencanaan pemberantasan malaria yang tidak dilakukan secara tepat dan berkesinambungan.

Salah satu daerah yang belum terbebas dari penyakit malaria adalah Jawa Barat. Penyebabnya, selain karena faktor mobilitas penduduk yang tinggi, juga karena kondisi alam yang memungkinkan banyaknya tempat perindukan nyamuk seperti hutan, lagun di sepanjang pantai dan tambak yang terlantar. Jabar memiliki daerah reseptif endemis malaria yakni daerah dengan KLB tinggi, khususnya di sepanjang Pantai Selatan seperti Kab. Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.

Yang cukup mengejutkan, jika sebelumnya penyakit malaria lebih banyak disebabkan oleh nyamuk spesies Anopheles sundaicus yang hidup di sawah dan daerah lagun/tepi pantai, kini muncul nyamuk tipe gunung (Anopheles balabacencis) dan tipe hutan (Anopheles maculatus) yang lebih ganas. “Bukan saja lebih ganas menggigit manusia, nyamuk gunung dan hutan ini juga relatif lebih tahan terhadap insektisida yang biasa digunakan sehingga untuk mengendalikannya butuh insektisida baru,” kata Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Depkes, dr. Thomas Suroso, MPH.

Dengan asumsi bahwa kini muncul nyamuk spesies Anopheles maculatus dan Anopheles balabacencis yang lebih ganas, sementara pada saat yang sama tingkat kewaspadaan penduduk terhadap penyakit malaria mulai menurun, maka bisa dikatakan sebagian penduduk Jabar kini dalam posisi terancam. Belum lagi adanya peningkatan aktivitas manusia yang cenderung merusak keseimbangan lingkungan seperti membabat hutan atau pengalihfungsian pantai, kian mendekatkan pada ancaman tersebut. Yang paling terancam adalah penduduk yang bermukim dekat hutan, daerah endemis, para turis atau mereka yang sering keluar masuk hutan.

Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan, tingkat kesehatan masyarakat atau kejadian suatu penyakit dalam suatu kelompok masyarakat merupakan resultante dari hubungan timbal balik antara masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Pada gilirannya, sebagai unsur yang terlibat langsung dalam hubungan timbal balik tersebut, apapun yang terjadi sebagai dampak dari proses interaksi berupa perubahan lingkungan akan menimpa dan dirasakan masyarakat.

Dalam kasus penyebaran penyakit malaria, kita seringkali melupakan akar masalah mengapa penyakit tersebut bisa tersebar dan malah menimbulkan KLB yang menelan korban jiwa. Sejauh ini permasalahan masih berkutat pada bagaimana mengobati orang yang sakit malaria atau memberantas nyamuk sebagai vektor bagi penyebaran parasit plasmodium yang menyebabkan tubuh seseorang menjadi sakit. Karenanya, meski dalam satu kasus program pemberantasan penyakit malaria dianggap sukses, namun beberapa waktu kemudian–ketika semua orang melupakannya–penyakit itu malah muncul kembali dengan ancaman yang lebih besar.

Meski belum ada penelitian resmi mengenai kehadiran spesies baru nyamuk malaria, sejumlah pihak merasa yakin, setidaknya curiga kemunculan spesies baru nyamuk Anopheles yang lebih ganas dan berbahaya bukan sesuatu yang mustahil. “Belum ada penelitian yang hasilnya menjelaskan mengenai adanya spesies baru nyamuk Anopheles,” kata Willy Purnawarman, SKM Kes, Penanggungjawab Progam Malaria Dinas Kesehatan Jabar.

Berkaitan dengan penyebaran malaria, ada tiga faktor utama yang saling berhubunga yakni host (manusia/nyamuk), agent (parasit plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut mendukung. Sebagai host intermediate, manusia bisa terinfeksi oleh agent dan merupakan tempat berkembangbiaknya agent. Semua itu dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, gaya dan cara hidup, hereditas (keturunan), status gizi dan tingkat imunitas.

Menyangkut usia, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena infeksi parasit malaria. Meski tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, infeksi pada ibu yang sedang hamil menyebabkan anemia berat. Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk memiliki kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositas. Hal ini tidak dimiliki oleh ras kulit putih. Orang yang pernah terinfeksi sebelumnya lebih tahan terhadap infeksi malaria.

Demikian pula dengan cara hidup, berpengaruh terhadap penularan, misalnya tidur dengan kelambu relatif lebih aman dari infeksi parasit. Sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria erat berhubungan dengan infeksi malaria, meski biasanya memiliki imunitas alami sehingga lebih tahan. Sedangkan orang dengan status gizi rendah juga bisa lebih rentan terkena infeksi parasit dibandingkan orang berstatus gizi baik.

Perilaku nyamuk Anopheles sebagai host definitive, sangat menentukan proses penularan malaria, seperti tempat hinggap/istirahat yang eksofilik (senang hinggap di luar rumah) dan endofilik (suka hinggap di dalam rumah), tempat menggigit yakni eksofagik (menggigit di luar rumah) dan endofagik (lebih suka menggigit di dalam rumah), obyek yang digigit yakni antrofilik (manusia) dan zoofilik (hewan).

Sedangkan faktor lingkungan yang cukup memberi pengaruh antara lain lingkungan fisik seperti suhu udara, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari, arus air, lingkungan kimiawi, lingkungan biologi (flora dan fauna) dan lingkungan sosial budaya. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena ia dapat menghalangi sinar matahari.

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax spp.), gambusia, nila mujair dll akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu, adanya ternak besar seperti sapi atau kerbau dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar rumah, tidak jauh dari rumah.

Dalam kasus-kasus tertentu, kehidupan nyamuk di habitatnya, entah di pantai, hutan atau gunung sudah demikian harmonis dan mengikuti keseimbangan alam. Nyamuk hutan atau gunung misalnya, mereka sebelumnya cukup memenuhi kebutuhan darahnya untuk keperluan pertumbuhan telurnya dari darah binatang yang ada di hutan. Tanpa harus mengejar manusia. Manusia pun relatif terhindar dari gigitan nyamuk.

Namun, seiring dengan rusaknya lingkungan ekosistem hutan, kehidupan dan keseimbangan alami tempat hidup mereka pun terganggu. Nyamuk pun mencari sumber dan lokasi kehidupan baru. Orang-orang sehat yang keluar masuk hutan, terpaksa harus menerima gigitan dan pulang membawa parasit di dalam darahnya. Demikian pula penduduk yang bermukim di sekitar hutan, menjadi sasaran terdekat nyamuk-nyamuk hutan yang mencari sumber kehidupan mereka.

Penduduk yang berada jauh dari daerah endemik pun bukannya tanpa risiko ancaman. Meski kecil, risiko tertular parasit malaria tetap ada. Dalam kasus ini, faktor mobilitas penduduk memegang peran penting. Penduduk yang berasal dari daerah non endemis lalu masuk ke daerah endemis dan digigit nyamuk yang mengandung parasit, otomatis akan tertular parasit. Jika ia pindah ke daerah asalnya, ia pun menjadi vektor yang siap menyebarkan parasit ke orang lain. Jika di daerah asalnya tidak ada nyamuk Anopheles, maka ia sendiri yang terjangkit parasit. Namun jika di daerahnya terdapat nyamuk Anopheles, parasitnya akan menyebar ke orang lain.

Lingkungan sosial budaya dinilai punya peran luar biasa besarnya dalam penularan penyakit malaria. Kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita untuk berada di luar rumah sampai larut malam di mana vektor lebih bersifat eksifilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk.

Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan penggunaan zat penolak nyamuk (repellent) yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang cukup penting pula adalah pandangan masyarakat di suatu daerah terhadap malaria. Jika malaria dianggap sebagai suatu kebutuhan yang mendesak utnuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan dilaksanakan secara spontan oleh masyarakat.(Muhtar/”PR”).***Pikiran Rakyat Cyber Media, 09 Januari 2003

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/09/cakrawala/utama1.htm

Fakta dan Data Mengenai Malaria

-Penyakit menular:
Bersifat reemerging (menular kembali secara massal), menyerang semua golongan umur, mulai bayi, anak-anak dan orang dewasa. Yang diserang umumnya rakyat yang tinggal di pedesaan dan tempat yang banyak genangan airnya.

– Masa inkubasi:
yakni jangka waktu yang diperlukan dari masuknya parasit ke badan manusia hingga terasa adanya sakit, seperti demam, menggigil dll, rata-rata 14 hari, namun tergantung macam parasit yang masuk.

– Penyebab dan cara penularan:
Malaria disebabkan oleh parasit yang sifatnya sama seperti benalu pada tumbuhan, parasit hidup dengan mengambil makanan dari darah manusia serta merusak sel-sel darah tersebut, sehingga orang yang bersangkutan mengalami kekurangan darah. Hanya nyamuk Anopheles betina yang menggigit dan jika kemudian menggigit orang sehat, maka parasit itu dipindahkan ke tubuh orang sehat dan jadi sakit. Seorang yang sakit dapat menulari 25 orang sehat sekitarnya dalam waktu musim penularan (3 bulan di mana jumlah nyamuk meningkat).

– Ciri nyamuk Anopheles:
Jumlahnya mencapai 80 spesies dan hanya 16 jenis yang menjadi vektor penyebar malaria di Indonesia. Relatif sulit membedakannya dengan jenis nyamuk lain, kecuali dengan kaca pembesar. Ciri paling menonjol yang bisa dilihat oleh mata telanjang adalah posisi waktu menggigit menungging, terjadi di malam hari, baik di dalam maupun di luar rumah, sesudah menghisap darah nyamuk istirahat di dinding dalam rumah yang gelap, lembab, di bawah meja, tempat tidur atau di bawah dan di belakang lemari.

– Tanda-tanda penyakit malaria:
Datangnya didahului oleh perasaan lesu, timbul rasa dingin menggigil tapi suhu badan meninggi, kemudian berkeringat dingin diiringi turunnya panas. Demam menggigil ini dapat berulang-ulang tiap dua atau tiga hari sekali atau dapat juga tidak teratur.

– Jumlah Korban:
Tiap tahun 20 juta orang Indonesia menderita malaria dan 35.000 orang meninggal karenanya (Survai Kesehatan Rumah Tangga, 2000).

– Upaya pencegahan:
Memakai kelambu, memasang kawat kasa, mengandangkan ternak di antara rempat pemukiman dan sarang nyamuk, memasang obat anti nyamuk, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk, mengeringkan tempat air tergenang yang sering dijadikan sarang nyamuk, penyemprotan malaria, menjaga kesehatan lingkungan dan keseimbangan alam. (Muhtar/PR).***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/09/cakrawala/utama3.htm

Malaria

Malaria adalah sejenis penyakit menular yang dalam manusia sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara.

Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penularan vektor untuk parasit malaria manusia adalah nyamuk Anopheles. Ragam dari Plasmodium falciparum dari parasit ini bertanggung jawab atas 80% kasus dan 90% kematian.

Untuk penemuannya atas penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles Louis Alphonse Laveran diberikan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.

Gejala dari malaria termasuk demam, menggigil, arthralgia (sakit persendian), muntah-muntah, anemia, dan convulsion. Dan mungkin juga rasa “tingle” di kulit terutama malaria yang disebabkan oleh P. falciparum. Komplikasi malaria termasuk koma dan kematian bila tak terawat; anak kecil lebih mungkin berakibat fatal.

http://id.wikipedia.org/wiki/Malaria

Jakarta Utara KLB Diare

Laporan Wartawan Kompas Neli Triana

JAKARTA, KOMPAS – Wakil Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Salimar, menyatakan kondisi luar biasa diare khusus untuk kawasan Jakarta Utara akibat membludaknya pasien diare di Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Selasa (13/2), pasien diare di RSUD Koja mencapai 285 orang, sebagian besar diantaranya adalah balita.

“Jumlah pasien diare tersebut sudah berlipat-lipat dibanding bulan Januari atau bulan yang sama tahun 2006 lalu. Khusus untuk RSUD Koja sudah dinyatakan KLB. Namun, untuk seluruh DKI Jakarta, meski jumlah pasien diare melonjak tetapi belum masuk kategori KLB,” kata Salimar, Selasa (13/2).

Data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, total pasien diare di seluruh Jakarta hingga Selasa kemarin mencapai 617 orang tersebar di 17 rumah sakit. Selain di RSUD Koja, pasien diare terbanyak dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, yaitu 131 orang. Di RSUD Budi Asih 72 pasien diare dan RSUD Cengkareng menampung 54 pasien.

http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0702/13/201457.htm