Habis Polio Terbitlah Flu Burung

Pengantar :
Sejumlah penyakit di Jawa Barat tahun 2005 datang silih berganti. Laporan akhir tahun bidang kesehatan menurunkan tiga tulisan masing-masing ”Habis Polio Terbitlah Flu Burung” yang ditulis Wartawan ”PR” Ani Nunung Aryani di halaman satu. Sementara itu, Ketua IDI Kota Bandung dr. Teddy Hidayat Sp.KJ. (K) menulis di rubrik Artikel dengan judul ”Masyarakat Dilarang Sakit Jiwa” dan Feby Syarifah di halaman yang sama menulis mengenai ”Pelayanan Kesehatan Gakin Diperkuat”. (Redaksi)

TAHUN 2005 benar-benar menjadi tahun keprihatinan. Tidak hanya kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dua kali dalam setahun yakni bulan Maret dan Oktober, namun berbagai penyakit yang menjadi kejadian luar biasa (KLB) juga datang silih berganti. Di Jawa Barat, sejumlah penyakit langganan seperti demam berdarah dengue (DBD), sampai penyakit polio yang sebenarnya sudah dinyatakan bebas dari bumi Indonesia sampai kepada flu burung (Avian Influenza/AI) yang merupakan penyakit pendatang baru di Indonesia pun, datang seperti ingin ikut meramaikan jagat politik di tanah air.

April tahun 2005, Jawa Barat tepatnya di Kab. Sukabumi digegerkan oleh munculnya kembali penyakit polio yang sudah dinyatakan bebas dari bumi Pasundan. Artinya, kondisi yang selama ini diyakini bahwa Jabar bebas polio ternyata bukan berdasarkan realita yang sesungguhnya. Berarti, sasaran imunisasi polio yang sudah dilakukan tidak menjangkau semua balita.

Masih adanya balita yang belum terjangkau imunisasi dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar Yudhi Prayudha. Menurut Yudhi, selain tidak terimmunisasi semua anak balita, munculnya kembali penyakit polio juga disebabkan oleh merebaknya virus polio liar yang dipercaya oleh para pakar berasal dari strain Afrika/Arab. Sementara itu, terdapat penyebab yang tidak langsung yaitu kondisi lingkungan yang buruk dan perilaku masyarakat yang tidak sehat, seperti buang air besar di sembarang tempat.

Sejak ditemukannya kasus pertama di Desa Giri Jaya Kec. Cidahu Kab. Sukabumi pada April 2005 sampai dengan ditemukannya kasus terakhir pada bulan Agustus 2005 di Desa Rongga, Kec. Rongga Kabupaten Bandung, jumlah penderita Polio dengan kecacatan fisik di Jawa Barat berjumlah 59 anak. Sementara, jumlah kasus di Indonesia berjumlah 295 anak. Kasus Polio di Jawa Barat menyebar di hampir sepertiga wilayah Jabar yakni Kabupaten Sukabumi 22 kasus, Kabupaten Bogor 25 kasus, Kabupaten Cianjur tujuh kasus, Kabupaten Bekasi satu kasus, Kota Bekasi satu kasus, Kabupaten Cirebon satu kasus, dan Kabupaten Bandung satu kasus.

Begitu polio menjadi kasus besar, pemerintah akhirnya menetapkannya menjadi KLB. Upaya pencegahan agar tidak menyebar lebih luas ke wilayah lain pun segera dilakukan dengan moping up dua kali yakni bulan Mei dan Juni 2005. Bahkan, kemudian moping dilanjutkan dengan menghidupkan kembali pekan imunisasi nasional (PIN) yang digelar di seluruh wilayah Indonesia. Setidaknya sudah tiga kali dilakukan PIN yakni bulan Agustus, September, dan akhir November lalu. Menurut rencana, kegiatan PIN akan kembali dilanjutkan sampai enam kali pada tahun 2006 mendatang.

Ancaman penyakit lain yang menimbulkan jumlah kematian cukup besar yakni DBD. Sejak Januari sampai akhir November 2005, dilaporkan setidaknya 225 orang di Jawa Barat meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk ini. Jumlah kematian tersebut melengkapi angka penderita DBD yang setiap bulannya cukup tinggi rata-rata 1.500 orang penderita atau rata-rata 50 orang per harinya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2005 ini jumlah penderita maupun kematian akibat DBD menunjukkan angka yang tetap tinggi setiap bulannya. Padahal, tahun-tahun sebelumnya angka penderita dan kematian tinggi biasanya terjadi pada puncak antarbulan Februari sampai April.

Ancaman demi ancaman penyakit mematikan tetap saja mendera warga Jabar. Memasuki pertengahan sampai dengan akhir tahun 2005, perhatian warga kembali harus tersedot munculnya penyakit mematikan yakni flu burung. Di Indonesia flu burung pertama kali ditemukan bulan Juli 2005 di Tangerang. Sampai saat ini, asal virus flu burung yang menyerang Iwan dan dua orang anaknya warga Tangerang yang meninggal akibat penyakit AI masih belum ditemukan. Bahkan, kasus AI terakhir yang menimpa Enang warga Kab. Sumedang yang berhasil selamat berkat penanganan cepat tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, alur virusnya dari mana juga masih gelap.

Berdasarkan data di Dinkes Jabar, sampai dengan Desember 2005, dugaan kasus flu burung di Jabar tercatat 25 kasus, tiga kasus di antaranya dinyatakan positif oleh laboratorium WHO di Hong Kong dan dua di antaranya meninggal. Sebaran kasus flu burung juga lumayan luas hampir mencakup sepertiga wilayah di jabar yakni Kab. Bekasi sebanyak lima kasus, Kota Bekasi (enam kasus), Kab. Bogor (tiga kasus), Kota Bandung (tiga kasus), Kab. Bandung (empat kasus), Kab. Sumedang (tiga kasus), dan Kab. Sukabumi satu kasus. Gejala Klinis AI pada manusia bervariasi luas dari gejala ringan sampai berat. Gejala bisa mirip dengan gejala flu biasa (panas, batuk, nyeri nelan, dan sakit otot), infeksi pada mata (conjunctivitis), pneumonia (radang paru), distres pernapasan akut, dan bisa disertai komplikasi yang sangat berat bahkan mengancam jiwa.

Meski di Indonesia khususnya di Jabar jumlah kematian yang disebabkan oleh serangan virus flu burung tidak sebanyak kasus penyakit lain seperti DBD atau HIV/AIDS, namun merebaknya penyakit flu burung di Indonesia memunculkan kepanikan dan kekhawatiraan luar biasa dari masyakarat bahkan masyarakat dunia. Untuk meredam kepanikan warga, pemerintah membentuk tim gabungan lintas departemen yang tugasnya melacak sumber penularan virus flu burung. Penelusuran sumber penularan itu juga melibatkan tim ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemerintah juga membuka posko dan menyiapkan rumah sakit rujukan untuk menjaga kemungkinan adanya korban baru.

Ketakutan bersama warga dunia akan penyakit ini adalah ancaman pandeminya seperti yang pernah muncul di Spanyol (Spanish flu) pada tahun 1918-1919, yang menyebabkan kematian hampir 50 juta penduduk dunia. Flu Spanyol diketahui disebabkan oleh virus H1N1. Selain flu Spanyol, pandemik flu burung lainnya yakni tahun 1957-1958, yang lebih dikenal dengan Flu Asia (Asian Flu) yang disebabkan virus sub tipe H2N2, mengakibatkan 70.000 kematian di Amerika Serikat. Flu Asia pertama kali diketahui muncul di Cina bulan Februari tahun 1957, kemudian ke Amerika Juni 1957.

Tahun 1968-1969, Flu Hong Kong (Hong Kong flu). Disebabkan virus H3N2, menyebabkan kematian pada 34.000 orang di Amerika Serikat. Virus pertama kali ditemukan awal tahun 1968 di Hong Kong, dan menyebar ke Amerika pada akhir tahun itu juga. Bahkan, sampai sekarang virus H3N2 masih ditemukan bersirkulasi. Pandemik tahun 1957-1958 dan 1968-1969, disebabkan karena virus baru gabungan virus influenza manusia dan burung, sedangkan pandemik tahun 1918-1919 virus penyebabnya murni virus AI.

Menurut Direktur Utama RSHS Cissy B. Kartasasmita, dampak dahsyat yang disebabkan pandemik itulah yang menyebabkan ketakutan luar biasa masyakarat dunia, sehingga warga dunia meminta setiap negara seharusnya sudah membuat perencanaan pandemic preparedness. Para pakar bahkan meyakini pandemik akan datang hanya masalah waktu saja. Dengan kemudahan transportasi dan mobilitas masyarakat dunia yang tinggi penyebaran virus flu burung akan lebih mudah lagi.

Pandemik Influenza adalah KLB global penyakit yang terjadi bila virus influenza A muncul pada populasi manusia, menyebabkan penyakit yang serius, dan menular secara mudah dari satu manusia ke manusia lain. Pandemik berbeda dengan KLB musiman atau epidemi influenza. KLB musiman disebabkan oleh sub-tipe virus influenza yang sudah bersirkulasi diantara manusia. Sedangkan pandemik disebabkan infeksi oleh subtipe baru, atau yang belum pernah bersirkulasi di antara manusia atau pernah bersirkulasi beberapa waktu lalu.

Pandemik influenza yang lalu mengakibatkan banyak korban yang sakit, meninggal, gangguan sosial maupun kerugian secara ekonomi. Pandemik influenza terjadi bila dihasilkan subtipe virus influenza A baru, dikenal sebagai perubahan besar (major) antigen virus (antigenic shift). Bila ditemukan jenis baru virus influenza A, ini merupakan pertanda awal akan timbulnya pandemik, meskipun untuk terjadinya pandemik virus baru tersebut harus bisa dengan mudah menular antar manusia.

Cissy B. Kartasasmita yang menjadi satu-satunya utusan Indonesia dalam forum ”Asia Pasific Advisory Committee on Influenza” (APACI) awal bulan November 2005 lalu di Hong Kong menjelaskan, dalam forum tersebut APACI mengeluarkan rekomendasi untuk menghadapi pandemik ini. Rekomendasi itu memuat antara lain, perlunya setiap negara melakukan pengawasan dan surveilance influenza, menyiapkan vaksin yang tepat dan melaksanakan imunisasi influenza terutama untuk yang berisiko, dan menyiapkan (stock pilling) obat anti virus (amantadine, rimantadine, oseltamivis, dan zanamizir). Setiap negara juga dianjurkan menyiapkan rencana yang matang untuk kesiagaan pandemik (Pandemic Influenza Response and Preparedness Plan), bila perlu dibantu oleh WHO dan badan-badan lain. Beberapa negara telah melaksanakan imunisasi rutin influenza dan stock-pilling obat antivirus. Namun, baik vaksin influenza maupun obat antivirus mahal harganya sehingga untuk negara yang tidak kaya sulit untuk melaksanakan stock-pilling maupun imunisasi.

Selain dua penyakit yang menghebohkan di tahun 2005 itu, menurut Yudhi Prayudha, Jabar sebenarnya masih menghadapi berbagai ancaman penyakit baik fisik maupun psikis. Selain masih harus menghadapi penyakit infeksi tradisional seperti TB Paru, malaria, DBD, antraks, leptosirosis, filariasis juga harus menghadapi penyakit penyakit baru seperti penyakit jantung, stroke, dan HIV/AIDS serta penyakit kejiawaan. Kondisi yang oleh para pakar disebut dengan ancaman ganda penyakit itu, lebih banyak diakibatkan kondisi lingkungan yang buruk serta tidak sehat.

Kondisi lingkungan yang buruk dan tidak sehat tersebut disebabkan ketidaktahuan, alasan ekonomi, dan perilaku yang buruk. DBD yang menjadi KLB pada awal tahun 2004, malaria menjadi KLB pada pertengahan tahun 2004, antraks menjadi KLB pada akhir tahun 2004 serta KLB polio pada awal tahun 2005 merupakan buktinya kondisi lingkungan yang buruk serta perilaku tidak sehat di samping ketidaktahuan dari masyarakat. Di samping itu, angka kesakitan penyakit jantung, stroke serta HIV/AIDS yang tinggi merupakan fenomena dari perubahan perilaku dari masyarakat tradisonal ke masyarakat modern.

Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang rawan terhadap HIV/AIDS. Jumlah penderitanya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sampai dengan akhir bulan September 2005, penderita HIV/AIDS yang tercatat adalah sebanyak 1.421 kasus dengan rincian 305 kasus AIDS dan 1.116 kasus HIV. Menurut faktor risiko kelompok terbanyak yang terkena panyakit ini adalah pengguna narkoba suntik yaitu sebanyak 843 kasus. Kasus terbanyak ditemukan di Kota Bandung, dengan jumlah kasus sebanyak 591 kasus, AIDS sebanyak 221 kasus dan HIV sebanyak 370 kasus, kemudian Kota Bekasi sebanyak 166 kasus, dan Kab. Tasikmalaya sebanyak 112 kasus serta Kab. Bekasi sebanyak 106 kasus. Sisanya tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Seperti fenomena gunung es, jumlah kasus yang tercatat hanya menunjukkan puncak dari gunung es tersebut, jumlah kasus yang sebenarnya tidak diketahui secara pasti.

Merebaknya kembali penyakit polio yang sudah sekira 10 tahun tidak pernah berjangkit itu, tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Kenapa setelah dinyatakan bebas, penyakit tersebut bisa muncul lagi? Apakah pernyataan Jabar bebas polio yang pernah menjadi kebanggaan birokrat berdasarkan realitas atau pernyataan politis saja? Selama ini, kebijakan pemerintah menyangkut berbagai hal termasuk kesehatan memang hanya sebatas memadamkan kebakaran, tanpa menyentuh esensi persoalannya. Pemerintah baru bertindak setelah muncul kejadian. Tindakannya itu pun biasanya setelah kasusnya di-blow up media massa. Suatu kebijakan yang sangat tidak perlu dan tentu saja tidak populer.

Kasus-kasus polio, lumpuh layuh, busung lapar, dan gizi buruk pada balita, tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, yang juga masih banyak ditemui di Jabar merupakan indikator nyata rendahnya kualitas kesejahteraan sebagian besar penduduk di Jabar. Menurut data BPS, pada tahun 2004 penduduk Jabar mencapai 39.140.812 jiwa, sementara penduduk miskin berdasarkan data BKKBN berjumlah 10.073.753 jiwa atau 25,76 %. Pastinya tahun 2005 ini jumlah penduduk miskin bertambah besar lagi.

Melihat angka statistik tersebut, sudah pasti akar permasalahan dari rentetan persoalan kesehatan adalah kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan terbatasnya akses mendapatkan layanan kesehatan. Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan kemampuan penyediaan air bersih, mutu lingkungan, dan jaminan infrastruktur pengelolaan limbah yang memadai bagi pabrik-pabrik yang didirikan di sekitar pemukiman penduduk.(Ani/dari berbagai sumber)***Pikiran Rakyat Cyber Media, 18 Desember 2005

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/18/0109.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s