Kemiskinan dan Penyakit

Perkembangan berbagai penyakit yang mengancam Jabar cenderung memperlihatkan fenomena gunung es. Kasus-kasus kejangkitan dan jumlah penderita yang dilaporkan tidak lebih dari penampakan permukaan saja, sedangkan jumlah sebenarnya yang jauh lebih besar masih tersembunyi. 

MENCERMATI perkembangan yang terjadi di Jawa Barat, rasanya cukup beralasan untuk menjadikan kita merasa prihatin. Bagaimana tidak? Data terakhir BPS menyebut, sekira 4,94 juta jiwa atau 13,38 persen dari total penduduk Jabar yang mencapai 37 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ukuran penduduk miskin di sini mengacu pada standar nilai konsumsi yang berlaku secara nasional, yakni sebesar 2.00 kalori/kapita/hari. Artinya, yang masuk kategori miskin adalah mereka yang tingkat konsumsi kalorinya di bawah angka standar.

Keprihatinan kita tidak berhenti sampai di sini. Biasanya, angka kemiskinan berkorelasi positif dengan penyakit, baik fisik maupun mental, dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Data-data perkembangan penyakit, baik yang ada di Dinas Kesehatan Jabar maupun sejumlah LSM, kian menambah keprihatinan kita terhadap situasi yang dihadapi warga Jabar. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Demikian pula halnya dengan warga Jabar, sudah kemiskinan demikian melilit, masih harus ditambah oleh ancaman berbagai penyakit yang menyerang dari segala penjuru.

Saat ini, bisa dikatakan, sejumlah penyakit berbahaya dan mematikan tengah menemukan lahan subur bagi perkembangbiakannya di Jabar. Di antara sekian jenis penyakit berbahaya dan kini harus menjadi bahan perhatian warga Jabar adalah apa yang disebut dengan penyakit “ATM” atau AIDS, TBC (tuberkulosa) dan malaria. Trio penyakit menular ini sudah memakan banyak korban, di antaranya harus kehilangan nyawa. Dengan ditetapkannya penyakit ATM sebagai bagian dari komitmen global, maka bisa diukur seberapa besar bahayanya ketiga penyakit tersebut bagi kesehatan umat manusia.

Angka yang sakit dan kematian akibat ketiga jenis penyakit tersebut menunjukkan grafik peningkatan tiap tahunnya. Padahal, ketiganya cenderung memperlihatkan fenomena “gunung es”. Artinya, kasus-kasus kejangkitan dan penderita yang berhasil ditemukan dan dikumpulkan Dinas Kesehatan tidak lebih dari penampakan permukaan saja, sedangkan jumlah sebenarnya yang jauh lebih besar masih tersembunyi dan belum terungkap.

Untuk kasus AIDS misalnya, catatan angka kenaikan jumlah pengidap HIV dan penderita AIDS di Jabar sungguh luar biasa. Jika pada tahun 1999 jumlahnya hanya mencapai 51 orang, posisi Juni 2002 jumlahnya sudah mencapai 395 orang terdiri dari 362 orang pengidap HIV dan 33 orang menderita AIDS.

Mengenai penyakit TBC, penyakit ini patut diwaspadai mengingat “prestasinya” sebagai pembunuh nomor tiga di Tanah Air dan nomor satu penyebab kematian di Jabar. Kasus-kasus kejangkitan dan kematian akibat TBC dilaporkan selalu meningkat tiap tahunnya. Ada satu rumus prevalensi yang biasa dijadikan standar WHO untuk menghitung jumlah penderita TBC di suatu negara, yakni 100-130 orang dari 100.000 orang penduduk diduga menderita TBC. Dengan rumus demikian, maka dari sekira 36 juta jiwa penduduk Jabar yang ada saat ini, sedikitnya 46.800 orang menderita TBC.

Sementara itu malaria, kini seolah bangkit kembali dari tidurnya dan memperlihatkan kecenderungan lebih berbahaya, terutama dengan munculnya spesies baru nyamuk penyebar malaria. Ada lima daerah reseptif dan endemis di Jabar yang dianggap rawan malaria yakni kawasan selatan Jawa Barat mulai dari Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi.

Itu baru ancaman dari tiga jenis penyakit. Masih ada penyakit lain yang tak kalah berbahayanya seperti kaki gajah (filariasis) yang memperlihatkan kecenderungan naik, demam berdarah dengue (DBD) serta rabies. Khusus rabies, Jabar merupakan satu-satunya provinsi di wilayah Pulau Jawa yang belum terbebas sama sekali dari rabies. Ini jelas menjadi suatu tantangan yang harus diatasi dalam waktu dekat.

Sukses tidaknya pemberantasan berbagai penyakit yang mengancam Jabar sangat bergantung pada ada tidaknya dukungan dari seluruh masyarakat. Khususunya, masyarakat yang kebetulan berada di lokasi dan melakukan aktivitas yang dianggap rawan terkena serangan penyakit-penyakit tersebut.

Mulai dari pola hidup yang harus lebih diperbaiki dan sanitasi lingkungan diperhatikan, serta perilaku seksual yang sehat, termasuk setia kepada pasangan dan tidak menggunakan obat-obat terlarang. Yang paling pokok adalah bagaimana kita berjuang melawan akar berbagai persoalan tersebut, yakni kemiskinan itu sendiri.***Pikiran Rakyat Cyber Media, 21 Nopember 2002

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1102/22/02.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s